Diarsipkan di bawah: artikel
Rasanya hampir setiap wanita pernah bermimpi untuk mengenakan pakaian mengembang bak putri raja ataupun menari bak ballerina dengan tutu-nya yang menyerupai pakaian putri – putri raja. Kesan romantis, feminine, dan elegant yang dimiliki oleh tutu bagaikan kisah turun temurun bagi para anak perempuan, gadis – gadis, dan wanita.
Itu juga yang ditangkap dan ingin dituangkan oleh para desainer dunia yang mengangkat tutu sebagai salah satu inspirasi desainnya. Sebutlah Valentino, Badgley Mischka, dan Zac Posen yang mengangkat tema tutu sebagai bagian dari koleksi Spring Summer 2007 nya. Semangat romantisme musim semi dan kenyamanan mengenakan sesuatu yang mengembang ringan setelah beberapa bulan mengenakan segala yg berat seperti jaket dan pakaian tebal di musim dingin, menjadikan tutu sebagai pilihan yg tepat.
Sebetulnya kebanyakan kain yang digunakan adalah tulle. Baik tulle biasa, maupun tulle stretchable. Tentu saja berbagai jenis kain berstruktur net lainnya pun termasuk. Namun anda pasti bertanya – tanya, lantas mengapa disebut tutu?
Kain tulle tersebut dibuat, dilipat, dan dikerutkan sedemikian rupa sehingga bentuknya mengembang dan bertumpuk – tumpuk menyerupai tutu. Dan pola tersebut dipakai langsung pada pakaian dan aksesoris, sehingga hasilnya memiliki tampilan mirip seperti tutu. Oleh karenanya lantas disebut, atau lebih tepatnya ditekankan, sebagai tutu style.
Ballerina’s tutu style ini paling cocok dikenakan oleh mereka yang bertubuh ramping, kurus, dan tinggi. Tutu memberikan efek mengembang, membesarkan, sehingga akan menambah volume pada siluet si pemakai. Bukan berarti mereka yang bertubuh gemuk dan pendek tidak dapat bermain – main dengan tutu, tapi memang diperlukan trik tertentu untuk membuat tutu terlihat manis pada mereka yg tidak bertubuh ramping dan tinggi.
Pilihan tutu skirt yg paling netral adalah yang tidak terlalu mengembang dan yang panjangnya mencapai lutut. Tidak terlalu bertumpuk, namun tetap terlihat bersusun dan sedikit mengembang. Diperlukan teknik penyambungan yang baik pada polanya untuk menciptakan tutu skirt yang netral seperti ini. Sebagai pilihan tutu skirt yang netral, anda bisa mendapatkannya di Simplight.NET dengan pilihan warna yang cocok untuk spring summer 2007 ini.
Diarsipkan di bawah: artikel
PERNAH, di satu kesempatan pengasuh berkunjung ke rumah tinggal seorang teman di daerah Sanur- Bali. Kami melihat sebuah rancangan rumah dengan ruang-ruang yang direncanakan begitu unik dan penuh cita rasa oleh penghuni, pemilik sekaligus perancangnya.
Salah satu ruang yang ingin kami suguhkan kepada para pembaca “Hikmah” kali ini adalah rancangan ruang tidur tamu.
Ruang tidur untuk tamu sering kita temui pada rumah-rumah tinggal sebagai kamar cadangan. Maksudnya apabila ada tamu atau keluarga atau kerabat yang terpaksa harus menginap, penghuni rumah tidak perlu repot-repot “mengungsi” pindah kamar.
Jadi, kamar tidur tamu pada rumah-rumah tertentu senantiasa dipersiapkan. Biasanya ditata dan dirawat dengan baik.
Kali ini kita membahas ruang tidur yang diperuntukkan bagi tamu yang menginap di sebuah rumah di Sanur, pulau Bali dengan rancangan yang dibuat khusus juga.
Rancangan bangunan di Bali, sebagai daerah wisata paling populer di Indonesia selalu penuh dengan keunikan. Nuansa etnik dan suasana magis membuat atmosfir secara keseluruhan menjadi berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia, begitupun suasana rumah tinggal ini.
Sebuah kori yang merupakan “pintu masuk” ke halaman rumah menyambut kami dengan ramah. Bangunan rumah tinggal tidak langsung terlihat setelah kami masuk, sebuah kolam renang dengan air yang biru jernih, dan kerimbunan pepohonan di sekelilingnya. Susunan keramik bertekstur kasar di sisi kolam mengantarkan kami menuju sebuah bangunan di ujung kolam.
Jadi, kolam tadi merupakan halaman depan dari rumah tinggal ini, unik, ya?
Sebelum masuk ke rumah, ada sebuah gazebo yang teduh dengan kursi kayu yang lebar penuh dengan bantal-bantal, tempat anggota keluarga bercanda akrab.
Ada beberapa bangunan yang mengelilingi kolam dan salah satunya adalah bangunan mungil khusus diperuntukkan bagi tamu-tamu yang datang untuk menginap. Nah, bangunan inilah yang akan kita bahas.
Seperti tempat-tempat lain di Bali, kawasan inipun memiliki hawa yang senantiasa panas dalam kesehariannya. Pemilik bangunan (yang kebetulan juga berprofesi sebagai arsitek) mengusahakan sedapat mungkin untuk tidak mempergunakan penghawaan buatan. Penanaman berbagai jenis pohon yang begitu apik dan tertata baik dampaknya membuat kawasan ini menjadi begitu rindang. Selain itu, merupakan salah satu upaya untuk membuat rumah tidak terlalu panas dan gersang.
Hampir setiap ruang pada bangunan di sekeliling kolam, mempunyai bidang dinding yang sebagian besar berhubungan langsung dengan halaman. “Lubang-lubang” pintu dan jendela dirancang cermat sehingga bukaan-bukaan tersebut membuat udara mengalir di seluruh ruang dengan sangat baik. Menimbulkan rasa nyaman dengan desiran angin yang halus di sekitar kita apabila sedang berada di dalam bangunan.
Ruang tidur tamu tampaknya cukup menarik untuk di bahas karena berkesan pemilik rumah ingin memberi pengalaman tersendiri kepada setiap tamu yang menginap di rumahnya.
Bangunan ini tidak terlalu besar, namun suasananya benar-benar Bali. Itu terlihat dari bentuk atap khas arsitektur bangunan di Bali, detail-detail ornamen di seluruh ruangan dan material alam yang diolah dengan unik.
Merupakan satu buah ruang dengan beberapa fungsi sekaligus seperti ruang tidur, ruang santai/ruang duduk dan kamar mandi.
Untuk tamu yang datang berlibur ke Bali tampaknya hanya fungsi-fungsi tersebut yang dibutuhkan, karena pada umumnya aktivitas siang hari berada di luar, termasuk makan.
Ruangan ini berukuran kurang lebih 6 X 6 m, ditata menjadi beberapa area seperti area ruang duduk dan ruang santai. Kemudian area untuk tidur dan kamar mandi.
Dua bidang dinding dibuat terbuka dengan daun pintu kaca yang bisa dilipat, sementara dua bidang dinding lainnya membatasi area tidur dan kamar mandi dengan halaman.
Yang unik di area tidur adalah sebagian lantai dibuat lebih tinggi dengan dua buah anak tangga, masing-masing tingginya sekira 15 cm. Lantai teratas membentuk sebuah tempat tidur yang luas, alas tidur (kasur busa) yang tebal dihamparkan di atasnya, tanpa pembatas lagi, sehingga tempat tidur berkesan lebih luas.
Area duduk-duduk santai seakan-akan menyatu dengan alam apabila pintu dibiarkan terbuka, karena lantai ruangan hanya dibatasi anak tangga lebar dengan halaman menuju ruang dalam. Di dalam ruang langsung disambut sarana duduk santai yang benar-benar santai. Karena bentuknya yang lebar, luas dan menyatu dengan dinding, maka bisa dipergunakan juga untuk tempat tidur bila diperlukan.
Kamar mandi sejajar dengan area duduk. Yang unik di kedua area ini adalah penggunaan penyekat yang membatasi ruang dengan halaman luar berupa anyaman bambu yang bisa di buka-tutup dengan posisi miring, sehingga udara tetap mengalir bebas ke dalam ruang.
Nah para pembaca “Hikmah” yang setia, tampaknya di kota Bandung, yang sekarang hawanya sudah lebih panas, bisa juga dibuat rumah tinggal seperti ini, ya?***